Bab 1: Godaan di Ruang Perawatan
Malam itu, rumah sakit Konoha terasa hening, hanya suara langkah kaki pelan dan desahan angin yang menyusup lewat jendela. Sakura Uchiha, seorang dokter berbakat dengan rambut merah muda yang ikonik, baru saja menyelesaikan shift panjangnya. Matanya yang hijau berkilauan penuh semangat, meski tubuhnya terasa lelah. Dia adalah wanita kuat, ibu yang protektif, dan ninja medis yang tak pernah mundur dari tantangan. Namun, malam ini, dia tidak tahu bahwa bayangan gelap sedang mengintai.
Di salah satu kamar pasien, dua pria yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya menatapnya dengan mata penuh nafsu. Mereka bukan pasien biasa—mereka adalah penjahat yang menyamar, menyusup ke rumah sakit untuk melancarkan rencana jahat. Yang pertama, bernama Kenta, bertubuh besar dengan tato naga melingkar di lengannya. Yang kedua, Ryo, lebih ramping tapi memiliki senyum licik yang membuat bulu kuduk merinding.
'Sakura-san, kau terlihat sangat... menggoda malam ini,' ujar Kenta, suaranya dalam dan penuh ancaman, sambil melangkah mendekat. Sakura mengerutkan kening, tangannya secara insting menyentuh saku seragamnya, mencari kunai kecil yang selalu dia bawa.
'Jangan main-main, Kenta. Aku di sini untuk memeriksamu, bukan untuk mendengar omong kosong,' balas Sakura tajam, nada suaranya tegas. Dia bukan tipe wanita yang mudah ditakuti, tapi ada sesuatu di mata Kenta yang membuat hatinya berdebar—bukan karena gairah, tapi karena firasat buruk.
Ryo tertawa kecil, berdiri dari tempat tidur pasien dengan gerakan yang terlalu santai. 'Oh, kami tidak main-main, dokter cantik. Kami punya tawaran. Kau lakukan apa yang kami mau, atau... kami akan mengunjungi putri kecilmu, Sarada, malam ini.'
Mata Sakura melebar, kemarahan membakar dadanya. 'Jangan berani-berani sentuh anakku, bajingan! Aku akan menghancurkan kalian berdua sebelum kalian bisa melangkah keluar dari ruangan ini!' ancamnya, tinjunya terkepal, chakra mulai mengalir di ujung jarinya.
Tapi Kenta lebih cepat. Dengan gerakan kilat, dia menarik lengan Sakura, memelintirnya ke belakang, sementara Ryo mengambil sehelai kain dari saku dan menyumpalkannya ke mulut Sakura. Bau kain itu akrab—itu celana dalamnya sendiri yang entah bagaimana mereka dapatkan. Sakura berusaha melawan, kakinya menendang, tapi Kenta terlalu kuat. Dia mendorong Sakura ke ranjang pasien, mengikat tangannya dengan tali medis yang biasa digunakan untuk infus.
'Kau pikir kau bisa melawan kami, ya? Kau dokter yang sombong,' sibir Ryo, jari-jarinya menelusuri pipi Sakura dengan penuh ejekan. 'Kami akan membuatmu menjerit, tapi bukan karena marah. Kau akan memohon pada kami.'
Sakura menggeram di balik kain penyumpal, matanya penuh kebencian. 'Mmmph! Kalian akan menyesal!' suaranya teredam, tapi semangatnya tak padam. Namun, di dalam hatinya, dia tahu dia harus bertahan—bukan untuk dirinya, tapi untuk Sarada.
Kenta menyeringai, mengambil botol kaca kosong dari meja samping ranjang. 'Mari kita mulai dengan ini, ya? Aku ingin melihat seberapa banyak kau bisa menahan.' Dia mendekat, tangannya kasar, sementara Ryo memegang kaki Sakura agar tak bisa menendang. Sakura merasa tubuhnya dipaksa, invasi yang tak diinginkan membuatnya menggigit kain di mulutnya lebih keras. 'Mmmh! Ahh!' desahnya teredam, campuran kemarahan dan ketidakberdayaan, tapi dia tak akan menyerah begitu saja.
Saat botol itu digunakan dengan cara yang mengerikan, Sakura memejamkan mata, mencoba memisahkan pikirannya dari tubuhnya. Tapi ancaman terhadap Sarada terus bergema di kepalanya, memaksanya untuk tetap sadar, untuk mencari celah. Dia bukan korban—dia adalah pejuang. Dan dia akan membuat mereka membayar.
Malam itu baru saja dimulai, dan udara di ruangan semakin panas, penuh dengan ketegangan dan nafsu yang terlarang. Sakura tahu dia harus bertahan, tapi tubuhnya mulai bereaksi di luar kendali, keringat membasahi kulitnya, napasnya terengah-engah. 'Mmmph... ahh... kalian... akan... mati...' gumamnya di balik kain, suaranya penuh dendam meski tubuhnya gemetar.
Dan di sudut ruangan, Kenta dan Ryo hanya tersenyum, tahu bahwa permainan baru saja dimulai.
Want to know how it ends?
This is just the opening chapter. Continue the saga — or write a steamy tale starring you.