← Story Library

Bayangan Malam di Rumah Sakit

Bayangan Malam di Rumah Sakit

Bab 1: Godaan di Ruang Perawatan

Sakura Uchiha, seorang dokter berbakat dan ibu yang berdedikasi, berdiri di sudut ruang perawatan rumah sakit Konoha yang remang-remang. Malam itu terasa lebih gelap dari biasanya, udara terasa berat dengan ketegangan yang tak bisa dijelaskan. Matanya yang hijau menyala-nyala menatap dua pasien di depannya, pria-pria dengan senyuman licik yang membuat bulu kuduknya berdiri.

"Dokter Sakura, kami tahu betapa berharganya Sarada untukmu," kata salah satu dari mereka, suaranya rendah dan penuh ancaman. Namanya Kenta, pria bertubuh besar dengan tatapan predator. "Kami hanya ingin sedikit... kerja sama. Kalau tidak, kami bisa saja mengunjungi putri kecilmu malam ini."

Sakura menggertakkan gigi, tangannya mengepal. "Kalian berani menyentuh Sarada, aku akan memastikan kalian menyesal lahir ke dunia ini," desisnya, suaranya penuh kemarahan tapi juga getar ketakutan. Dia adalah seorang ninja medis, kuat dan tak kenal takut, tapi ancaman terhadap anaknya adalah kelemahannya.

Pria kedua, Ryo, tertawa kecil sambil melangkah mendekat. "Oh, kami tidak akan menyentuhnya... kalau kamu mau bermain sesuai aturan kami. Ayo, Dokter, lepaskan baju putih suci itu. Tunjukkan pada kami betapa panasnya tubuh di balik seragam itu."

Sakura menatap mereka dengan jijik, tapi dia tahu dia tidak punya pilihan. Dengan gerakan lambat, dia membuka kancing jas dokternya, memperlihatkan kulit putih mulus di bawahnya. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena gairah, tapi karena kemarahan yang membakar. "Kalian akan membayar ini," gumamnya, suaranya penuh dendam.

Kenta mendekat, tangannya kasar saat meraih dagunya. "Kami suka semangatmu, Dokter. Tapi sekarang, diam dan nikmati. Atau kami akan membuatmu menjerit dengan cara yang berbeda." Dia menyeringai, matanya penuh nafsu saat dia mendorong Sakura ke arah ranjang pasien.

Ryo mengambil sehelai kain dari saku Sakura—celana dalamnya sendiri—dan dengan kasar mengikatnya di mulutnya sebagai penyumbat. "Ini agar tetangga tidak dengar jeritanmu, sayang," ejeknya, suaranya penuh ejekan. Sakura menggeliat, matanya menyala-nyala dengan kebencian, tapi tangannya segera diikat ke kepala ranjang dengan tali rumah sakit.

"Lihat tubuh ini," gumam Kenta, tangannya meluncur di atas kulit Sakura yang terbuka, membuatnya merinding. "Kau terlalu sempurna untuk hanya jadi dokter. Aku yakin kau basah di bawah sana, meski kau berusaha menyembunyikannya."

Sakura mencoba berbicara, tapi hanya suara teredam yang keluar dari mulutnya yang tersumbat. Dia menggeliat lebih keras, tapi Ryo menahannya dengan kuat. "Jangan melawan, Dokter. Kami punya banyak mainan untukmu malam ini," katanya sambil mengambil sebuah botol kaca dari meja samping. Senyuman jahat terukir di wajahnya saat dia mendekatkan benda itu ke tubuh Sakura.

Detak jantung Sakura semakin cepat, kemarahan bercampur dengan rasa takut yang tak bisa dia kendalikan. Dia tahu malam ini akan panjang, dan dia harus bertahan—bukan untuk dirinya, tapi untuk Sarada. Tapi di sudut pikirannya, dia berjanji pada dirinya sendiri: dia akan membuat mereka membayar, dengan cara apa pun.

Dan saat tangan Kenta mulai bergerak lebih jauh, nafas Sakura menjadi pendek, tubuhnya berkeringat meski dia berusaha melawan. Dia tidak akan menyerah, tapi godaan dan ancaman itu mulai menggerogoti pertahanannya, membuatnya merasa terjebak dalam permainan gelap yang tak bisa dia hindari.

Want to know how it ends?

This is just the opening chapter. Continue the saga — or write a steamy tale starring you.