Bab 1: Pertemuan yang Membakar
Di sudut kota Jakarta yang ramai, di sebuah bar eksklusif bernama 'Midnight Velvet', Maya duduk sendirian di sudut ruangan, memandangi gelas martini yang hampir kosong. Rambut hitamnya yang panjang tergerai, matanya tajam seperti elang, mencari sesuatu—atau seseorang. Dia bukan tipe wanita yang menunggu, dia yang memilih. Malam ini, dia mengenakan gaun merah ketat yang memamerkan lekuk tubuhnya, membuat setiap mata di ruangan itu melirik, tapi dia tak peduli. Maya tahu apa yang dia inginkan.
Di sudut lain, seorang pria bernama Rian berdiri, memegang segelas wiski. Matanya tertuju pada Maya sejak dia masuk. Dia bukan pria biasa—postur tegap, senyum setengah nakal, dan tatapan yang penuh percaya diri. Dia tahu dia bisa mendapatkan siapa saja, tapi malam ini, dia hanya ingin satu orang.
Rian berjalan mendekati Maya, langkahnya penuh keyakinan. 'Kamu terlihat seperti seseorang yang punya rahasia,' katanya, suaranya dalam dan sedikit menantang.
Maya menoleh, senyum kecil di bibirnya. 'Dan kamu terlihat seperti seseorang yang terlalu percaya diri untuk menggali rahasia itu,' balasnya, nada suaranya tajam tapi menggoda.
Rian tertawa, tidak gentar. 'Aku suka tantangan. Dan aku yakin, kamu juga.' Dia duduk di sebelahnya tanpa meminta izin, tapi Maya tidak keberatan. Ada sesuatu tentang pria ini yang membuat darahnya berdesir.
'Mungkin. Tapi aku bukan tipe yang mudah ditaklukkan,' Maya menjawab, menatap langsung ke matanya. 'Kalau kamu mau main, pastikan kamu bisa mengikuti iramaku.'
Rian menyeringai, matanya berkilau penuh hasrat. 'Oh, aku lebih dari siap. Aku bisa buat kamu lupa nama bar ini sebelum malam berakhir.'
Maya tertawa, suaranya rendah dan menggoda. 'Kata-kata besar. Aku harap kamu bisa membuktikannya.' Dia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, aroma parfumnya yang manis memenuhi udara di antara mereka. 'Karena aku bukan wanita yang puas dengan janji kosong.'
Percakapan mereka terus mengalir, setiap kalimat penuh sindiran dan godaan. Tegangan di antara mereka semakin terasa, seperti listrik yang siap meledak. Maya merasakan panas di tubuhnya, dan dia tahu Rian juga merasakannya. Tatapan pria itu semakin gelap, penuh nafsu, dan Maya tidak bisa menahan senyum. Dia suka permainan ini.
'Ayo kita cari tempat yang lebih... pribadi,' usul Rian, suaranya serak, penuh keinginan. Maya mengangguk, berdiri dengan anggun, dan membiarkan Rian mengikuti. Mereka berjalan menuju koridor belakang bar, di mana lampu redup dan suasana semakin intim. Maya bisa merasakan jantungnya berdebar, bukan karena takut, tapi karena antisipasi.
Di sudut koridor yang sepi, Rian mendorong Maya ke dinding dengan lembut tapi tegas. 'Kamu tahu, aku sudah ingin melakukan ini sejak melihatmu tadi,' bisiknya, napasnya hangat di leher Maya.
Maya tersenyum, tangannya meraih kerah kemeja Rian. 'Kalau begitu, tunjukkan padaku seberapa inginnya kamu,' tantangnya, matanya penuh api. Bibir mereka hampir bersentuhan, panas tubuh mereka bercampur, dan Maya bisa merasakan betapa kerasnya tubuh Rian menekan dirinya. Dia tahu malam ini akan menjadi sesuatu yang tak terlupakan, dan dia siap mengambil kendali atas setiap detiknya.
Want to know how it ends?
This is just the opening chapter. Continue the saga — or write a steamy tale starring you.