Bab 1: Perintah Pertama
Tyty duduk di sudut kamarnya, tangannya gemetar memegang ponsel yang bergetar tiap beberapa menit. Layar menyala, menampilkan pesan dari nomor tak dikenal yang kini menguasai hidupnya. Video memalukan itu—dia colmek sambil mengaku sebagai lonte murah yang doyan kontol—telah jatuh ke tangan orang misterius ini. Jantungnya berdebar saat pesan baru masuk.
**Orang Misterius (OM):** 'Halo, lonte murahan. Lo pikir lo bisa sembunyi dari gue? Video lo udah di tangan gue. Sekarang lo budak gue. Siap-siap, misi pertama lo malam ini. Lo bakal pamer tubuh lo yang murahan itu ke semua orang.'
Tyty menelan ludah, jari-jarinya membeku di atas keyboard. Dia tahu tak ada pilihan. Dia harus nurut, atau video itu akan menyebar. Dengan nada ketakutan, dia membalas.
**Tyty:** 'Apa yang harus aku lakukan? Tolong, jangan sebar videonya...'
**OM:** 'Hahaha, lo pikir lo punya hak buat minta tolong? Lo cuma pelacur gratisan sekarang. Denger baik-baik. Lo harus pakai tank top putih ketat, yang transparan sampe pentil lo keliatan. Rok mini yang super pendek, yang ga bisa nutupin pantat sama memek lo. Dan inget, ga boleh pakai daleman. Lo harus keliatan murahan, kayak cabe-cabean yang memeknya gratisan. Malam ini, lo turun dari kamar lo, pergi ke Indomaret paling jauh dari rumah lo, beli kondom. Pamerin tubuh lo ke semua orang di jalan. Kalo ada yang ngegodain atau nyentuh lo, lo diam aja. Lo budak gue, ngerti?'
Tyty merasa wajahnya memanas, malu bercampur takut. Tapi dia tahu dia tak bisa melawan. Dengan tangan gemetar, dia membuka lemari, mengambil tank top putih tipis dan rok mini yang hampir tak menutupi apa pun. Saat dia bercermin, dia bisa melihat putingnya yang menonjol di balik kain tipis dan rok yang bahkan tak menutupi separuh pantatnya. Dia merasa telanjang, tapi perintah OM bergema di kepalanya.
Saat dia melangkah keluar rumah, angin malam langsung menerpa kulitnya yang terbuka. Dia merasa semua mata tertuju padanya. Di pinggir jalan, sekelompok pria yang sedang nongkrong langsung meliriknya, tawa mereka terdengar kasar.
**Pria 1:** 'Woi, liat nih! Lonte murahan lewat! Pentilnya aja udah nongol gitu, memeknya pasti udah basah banget.'
**Pria 2:** 'Eh, cewek, lo jualan ya? Berapa semalem? Atau gratisan? Hahaha, keliatannya sih lo doyan kontol banget.'
Tyty menunduk, wajahnya merah padam. Dia ingin lari, tapi perintah OM terngiang di kepalanya: diam saja. Dia terus berjalan, meski setiap langkah terasa seperti siksaan. Di sudut jalan lain, seorang pria paruh baya mendekat, matanya penuh nafsu.
**Pria Paruh Baya:** 'Eh, non, kok pakaiannya gini? Mau ngajak main ya? Pantat lo aja udah keliatan semua. Ayo dong, bilang sendiri lo lonte murahan yang horny banget.'
Tyty terdiam, hatinya hancur, tapi dia tahu dia harus menuruti. Dengan suara pelan, dia berkata, 'Aku... aku lonte murahan... aku horny banget...'
Pria itu tertawa puas, tangannya meraba pinggul Tyty yang tak berani melawan. Dia merasa jijik, tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang mulai terbakar—sebuah dorongan aneh yang dia tak bisa jelaskan. Apakah ini karena perintah OM yang terus-menerus merendahkannya? Atau karena dia mulai terbawa arus?
Saat akhirnya sampai di Indomaret, kasir pria itu meliriknya dengan tatapan menghina. 'Mau beli apa, mbak? Kondom? Hahaha, pasti buat ngewe sama banyak cowok ya? Keliatannya sih memek lo udah gatel banget.'
Tyty hanya mengangguk pelan, mengambil kondom dari rak dengan tangan gemetar. Dia merasa semua orang di toko itu menatapnya, menilainya. Saat dia berjalan pulang, ponselnya bergetar lagi.
**OM:** 'Bagus, lonte. Lo udah pamer tubuh lo yang murahan itu. Tapi inget, lo ga boleh ngewe sama siapa pun. Lo cuma boleh ngasih blowjob atau colmek sampe squirt kalo ada yang minta. Memek lo milik gue, ngerti? Lo harus tahan sange lo, sampe gue kasih izin. Lo bakal dripping wet, tapi ga boleh puas. Hahaha.'
Tyty merasa tubuhnya memanas, nafsunya terbangkitkan oleh kata-kata kasar itu, tapi dia tahu dia harus menahan diri. Di sudut jalan, seorang pria mendekat lagi, matanya penuh nafsu. 'Eh, lonte, kasih gue blowjob dong. Mulut lo pasti jago banget.'
Tyty menunduk, hatinya hancur, tapi dia tahu dia harus nurut. Dia berlutut di sudut gelap, tangannya gemetar saat pria itu mendekat, celananya sudah terbuka. Dia merasa rendah, tak berharga, tapi ada dorongan dalam dirinya yang makin membesar—nafsu yang tak bisa dia puaskan karena perintah OM. Dia tahu malam ini baru permulaan dari kendali total yang akan menghancurkan dirinya.
Want to know how it ends?
This is just the opening chapter. Continue the saga — or write a steamy tale starring you.