Bab 1: Perintah Memalukan
Tyty duduk di sudut kamarnya, tangannya gemetar memegang ponsel yang kini jadi alat penyiksaan baginya. Layar menyala, pesan dari orang misterius—yang dia sebut OM—muncul dengan nada dingin dan menghina.
**OM (chat):** 'Lonte murahan, dengerin baik-baik. Lo udah ga punya harga diri lagi. Video lo yang bilang memek lo gratisan udah di tangan gue. Mau ini nyebar ke semua orang? Atau lo nurut perintah gue?'
Tyty menelan ludah, jantungnya berdebar. Dia tahu dia tidak punya pilihan. Jari-jarinya ragu mengetik balasan.
**Tyty (chat):** 'Aku nurut... tolong jangan sebarin.'
**OM (chat):** 'Bagus, pelacur kecil. Perintah pertama lo gampang. Lo harus pake tank top putih ketat yang transparan, ga boleh pake bra. Biar pentil lo keliatan jelas. Terus rok mini yang super pendek, yang ga nutupin pantat sama memek lo. Dan ingat, ga boleh pake celana dalam. Lo harus keliatan kayak cabe-cabean murahan yang siap dientot siapa aja. Paham, lonte?'
Wajah Tyty memerah, malu bercampur takut. Tapi dia hanya bisa mengangguk pada layar ponsel, seolah OM bisa melihatnya.
**Tyty (chat):** 'Paham... aku lakuin.'
**OM (chat):** 'Belum selesai, jalang. Lo harus turun dari kamar lo, pergi ke Indomaret yang paling jauh dari rumah lo. Beli kondom. Lo harus pamer tubuh lo ke semua orang di jalan. Kalo ada yang ngecatcall atau pegang-pegang lo, lo diam aja. Lo budak seks gue sekarang, ga punya hak buat nolak. Kalo lo berani lawan, video lo langsung gue sebar. Ngerti?'
Tyty merasa dunia berputar. Dia ingin menangis, tapi air matanya kering oleh rasa takut. Dia hanya bisa menjawab dengan suara gemetar saat OM tiba-tiba menelepon.
**OM (telpon):** 'Gimana, lonte? Udah siap pamer memek gratisan lo ke semua orang? Atau lo mau gue kirim video lo ke pacar lo sekarang juga?'
**Tyty (telpon):** 'Jangan... aku bakal lakuin. Aku... aku cuma takut.'
**OM (telpon):** 'Takut? Hahaha, lonte kayak lo ga pantes takut. Lo kan doyan kontol, kan? Lo sendiri yang bilang di video itu. Sekarang buruan ganti baju, gue mau liat lo jalan di jalanan kayak pelacur beneran. Kirim foto sebelum lo keluar, biar gue yakin lo nurut.'
Dengan tangan gemetar, Tyty mengganti pakaiannya sesuai perintah. Tank top putih tipis itu memperlihatkan putingnya yang mengeras karena udara dingin, dan rok mini itu bahkan tidak menutupi separuh pantatnya. Dia merasa telanjang, dipermalukan. Tapi dia tidak punya pilihan. Dia mengirim foto ke OM, dan balasan langsung datang.
**OM (chat):** 'Hahaha, bener-bener lonte murahan. Pentil lo udah nongol gitu, memek lo juga ga ketutup. Perfect. Sekarang jalan, jalang. Gue pantau lo dari jauh. Kalo lo ga sampe Indomaret dalam 30 menit, video lo gue upload.'
Tyty melangkah keluar kamar, setiap langkah terasa seperti hukuman. Di jalanan, tatapan orang-orang langsung tertuju padanya. Seorang pria paruh baya yang lewat langsung berteriak.
**Pria 1:** 'Woi, lonte! Memek lo aja keliatan gitu, minta dientot ya? Hahaha, murahan banget sih lo!'
Tyty menunduk, wajahnya panas karena malu. Tapi dia ingat perintah OM—dia tidak boleh melawan. Dia hanya diam, membiarkan hinaan itu mengalir.
**Pria 2:** 'Eh, cewek, sini dong. Pentil lo nongol gitu, minta dijilat ya? Atau lo mau gue sepongin di sini aja? Hahaha, pelacur beneran nih!'
Hinaan demi hinaan terus datang, dan Tyty merasa dirinya semakin kecil. Tapi anehnya, semakin dia dipermalukan, ada rasa aneh yang tumbuh di dalam dirinya. Rasa malu bercampur dengan dorongan yang tidak bisa dia jelaskan. Dia mulai terbawa arus, mulai merasa bahwa dia memang seperti yang mereka bilang—lonte murahan.
Sampai di Indomaret, seorang kasir pria menatapnya dengan jijik sekaligus penuh nafsu.
**Kasir:** 'Mau beli apa, mbak? Kondom? Hahaha, emang lo lonte ya? Pantes pake baju begini. Memek lo aja keliatan, ga malu apa?'
Tyty diam, tapi dalam hati dia merasa ada dorongan untuk menjawab. Dia akhirnya membuka mulut, suaranya pelan tapi penuh kepasrahan.
**Tyty:** 'Iya... aku emang lonte murahan. Aku cuma mau beli kondom... buat nanti.'
Kasir itu tertawa keras, dan beberapa orang di sekitar ikut menatapnya dengan tatapan merendahkan. Tyty merasa tubuhnya panas, bukan hanya karena malu, tapi ada rasa horny yang mulai menguasai. Dia tahu OM tidak mengizinkan lebih dari sekedar hinaan dan sentuhan ringan, tapi itu justru membuatnya semakin sange, semakin ingin. Dia merasa wet, dripping, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Di ujung telepon, OM tertawa puas mendengar laporan Tyty.
**OM (telpon):** 'Bagus, lonte. Lo mulai nikmatin ya jadi budak seks gue? Tapi inget, lo ga boleh dapet kepuasan. Lo cuma boleh sange, ga boleh lebih. Kembali ke rumah sekarang, dan inget, lo punya gue. Memek lo ga boleh disentuh siapa pun kecuali gue izinin. Paham, jalang?'
**Tyty (telpon):** 'Paham... aku... aku cuma budak lo.'
Tyty berjalan pulang, tubuhnya sweating, panting, dan penuh hasrat yang tidak bisa dia lampiaskan. Dia tahu ini baru awal dari permainan OM, dan dia sudah mulai kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Want to know how it ends?
This is just the opening chapter. Continue the saga — or write a steamy tale starring you.