← Story Library

Budak Chat: Perintah Pertama

Budak Chat: Perintah Pertama

Bab 1: Perintah Memalukan

Tyty duduk di sudut kamarnya, tangannya gemetar memegang ponsel yang bergetar tiap beberapa menit. Layar menyala, pesan dari nomor tak dikenal—seseorang yang menyebut dirinya 'Tuan'—membuat jantungnya berdebar. Video pribadinya, rekaman intim saat dia colmek sambil mengaku sebagai 'lonte murah doyan kontol' untuk pacarnya, kini ada di tangan orang misterius ini. Dia tahu, hidupnya sudah hancur.

**Chat dari Tuan:**

'Ayo, pelacur kecil. Lo pikir lo bisa sembunyi? Video lo udah gue simpen. Sekarang lo budak gue. Ikutin perintah, atau video ini nyebar ke semua kontak lo. Paham, lonte?'

Tyty menelan ludah, jari-jarinya bergetar saat mengetik balasan. 'Tolong, jangan. Aku bakal lakuin apa aja. Tapi jangan sebar.'

**Chat dari Tuan:**

'Bagus. Lo tau tempat lo. Perintah pertama, dandan kayak cabe-cabean murahan. Tank top putih ketat, transparan, no bra. Rok mini super pendek sampe memek lo keliatan. No celana dalam. Lo harus pamer pentil sama memek lo ke semua orang. Turun dari kamar, beli kondom di Indomaret paling jauh dari rumah lo. Biarin orang liat tubuh lo yang murahan itu. Kalo ada yang ngegodain atau nyentuh, lo diam aja. Lo cuma budak seks gue. Paham, jalang?'

Tyty memandang pakaian yang diminta di atas kasur. Tank top putih itu tipis banget, putingnya bakal keliatan jelas. Rok mini itu bahkan nggak nutupin pantatnya, apalagi memeknya yang bakal terekspos tiap dia jalan. Dia mau protes, tapi suara ponsel berdering. Panggilan dari Tuan.

'Halo, lonte. Lo udah siap belum? Jangan buang waktu gue,' suara di seberang telepon itu dingin, penuh otoritas.

'Aku... aku nggak yakin bisa lakuin ini. Aku malu,' Tyty berbisik, suaranya penuh ketakutan.

'Malu? Lo yang ngaku di video lo doyan kontol, memek lo boleh dientot siapa aja. Sekarang malu? Jangan munafik, pelacur. Lo cuma barang murahan. Cepet dandan, atau besok video lo viral. Lo mau keluarga lo tau lo lonte gratisan?' ejek Tuan dengan tawa sinis.

Tyty menggigit bibir, air matanya menetes. Tapi dia nggak punya pilihan. Dengan tangan gemetar, dia pakai tank top itu, putingnya langsung menonjol di balik kain tipis. Rok mini itu bahkan nggak nutupin apa-apa, pantatnya setengah terbuka, dan tiap langkah kecil bikin memeknya hampir keliatan. Dia berdiri di depan cermin, wajahnya memerah karena malu.

**Chat dari Tuan:**

'Fotoin diri lo sekarang. Gue mau liat betapa murahannya lo.'

Tyty dengan terpaksa mengirim foto, dan balasan cepat datang.

**Chat dari Tuan:**

'Hahaha, bener-bener lonte kampungan. Pentil lo nongol banget. Memek lo juga udah siap dipamerin ya? Turun sekarang. Jangan lupa, lo cuma budak. Biarin orang nikmatin tubuh lo.'

Dengan langkah gontai, Tyty turun dari kamar kosnya. Tiap langkah bikin dia merasa telanjang. Angin sepoi-sepoi menyapu roknya, bikin memeknya terasa dingin dan terbuka. Dia jalan menuju Indomaret terjauh, sekitar 2 kilometer dari kosnya. Di jalan, tatapan mata orang-orang langsung tertuju padanya. Bisik-bisik dan tawa sinis terdengar.

'Eh, liat tuh cewek. Bener-bener nggak punya malu. Pentilnya nongol gitu,' kata seorang pria sambil nyengir ke temennya.

'Memeknya juga keliatan, bro. Kayaknya gratisan nih. Ayo deh, kita godain,' balas yang lain sambil mendekat.

Tyty menunduk, wajahnya panas karena malu. Tapi perintah Tuan bergema di kepalanya. Dia nggak boleh melawan. Salah satu pria itu mendekat, tangannya sengaja nyenggol pantatnya. 'Eh, mbak. Kok pakaiannya gini? Mau nawarin jasa ya? Murah berapa semalem?'

Tyty cuma diam, jantungnya berdebar. Dia pengen lari, tapi suara Tuan di kepalanya terlalu kuat. Pria itu tertawa, 'Diam aja? Berarti bener dong, lo lonte murahan. Ayo, bilang sendiri. Lo lonte gratisan, kan?'

Dengan suara gemetar, Tyty terpaksa berbisik, 'Iya... aku lonte gratisan.'

Tawa mereka meledak. 'Hahaha, beneran nih. Ayo dong, buka dikit roknya. Kasih liat memek lo yang murah itu,' perintah pria itu sambil nyengir.

Tyty merasa dirinya hancur, tapi tangannya perlahan mengangkat roknya sedikit, memamerkan memeknya yang udah basah karena malu dan tekanan. Dia nggak ngerti kenapa tubuhnya malah bereaksi begini. Dia horny, tapi nggak bisa ngapa-ngapain karena perintah Tuan jelas—nggak boleh ada penetrasi.

'Eh, liat nih, memeknya udah basah. Bener-bener doyan ya lo,' ejek pria lain sambil mendekat. 'Ayo, colmek di sini. Kasih liat kita lo squirt.'

Tyty menggigit bibir, tangannya terpaksa turun, menyentuh memeknya yang udah dripping. Dia mulai colmek di pinggir jalan, di depan mata orang-orang yang menonton sambil tertawa. Dia merasa rendah, hina, tapi semakin dia disentuh, semakin dia pengen lebih. Tapi Tuan nggak izinin. Dia cuma bisa edging, sange berat tapi nggak bisa klimaks sepenuhnya.

Di kejauhan, ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Tuan.

**Chat dari Tuan:**

'Bagus, lonte. Lo udah mulai nikmatin jadi budak ya? Ingat, lo nggak boleh puas. Lo cuma boleh sange, sampe lo gila pengen kontol. Lanjutin perjalanan lo. Gue mau liat lo dihina lebih banyak lagi.'

Tyty menghela napas, tubuhnya sweating dan panting. Dia tahu ini baru awal dari kehancurannya. Dan entah kenapa, dia mulai terbawa arus, mulai pengen dihina lebih lagi, meski dia nggak berani bilang langsung. Dia jalan lagi, memeknya masih basah, putingnya masih keras, dan tatapan orang-orang di jalan makin lapar.

Want to know how it ends?

This is just the opening chapter. Continue the saga — or write a steamy tale starring you.