Bab 1: Jurus yang Membakar
Di bawah terik matahari siang, padepokan silat di lereng bukit Sunda dipenuhi suara teriakan dan dentuman kayu beradu. Mayangsari, sang guru silat wanita yang terkenal dengan kecantikan dan ketegasannya, berdiri di tengah lapangan latihan. Kulitnya putih mulus, berkilau oleh keringat yang menetes di leher jenjangnya. Rambut hitamnya yang dikuncir tinggi bergoyang setiap kali ia bergerak, menunjukkan jurus-jurus mematikan dengan anggun. Rok kain tradisional yang ia kenakan sedikit tersingkap saat ia melompat, memperlihatkan paha mulus yang membuat jantung para murid berdebar.
Di antara puluhan murid yang berlatih, mata Ari Widiyanto, pemuda berusia 23 tahun dengan tubuh atletis, tak bisa lepas dari sosok Mayangsari. Ia berdiri di barisan belakang, pura-pura fokus pada jurus yang diajarkan, tapi pikirannya liar. 'Ya Tuhan, guru seksi begini kok bisa ngajar silat? Aku malah pengen diajarin jurus di ranjang,' gumamnya dalam hati, senyum nakal tersungging di bibirnya.
Mayangsari, yang mata elangnya tak pernah melewatkan apa pun, tiba-tiba menoleh tajam ke arah Ari. 'Ari! Kamu kenapa bengong? Jurus ini bukan buat dilihatin doang, tapi dipraktikkan! Kemari, lawan aku!' teriaknya dengan nada tegas, tapi ada secercah senyum kecil di sudut bibirnya yang penuh makna.
Ari maju dengan langkah percaya diri, meski jantungnya berdebar. 'Siap, Bu Guru. Tapi jangan salahkan saya kalau jurus saya bikin Ibu kepanasan,' balasnya dengan nada genit, membuat beberapa murid di sekitar tertawa kecil.
Mayangsari mengangkat alis, menatap Ari dengan pandangan sayu yang justru terlihat menggoda. 'Mulutmu itu, Ari. Kalau jurusmu nggak sepedas omonganmu, aku yang bakal bikin kamu ngos-ngosan,' sahutnya, lalu mengambil posisi siap bertarung. Tubuhnya yang ramping namun berisi itu terlihat begitu memikat saat ia mengangkang sedikit, bersiap menyerang.
Pertarungan dimulai. Ari mencoba menyerang dengan pukulan cepat, tapi Mayangsari dengan lincah menghindar, lalu balik menyerang dengan tendangan tinggi. Roknya tersingkap lagi, memperlihatkan sekilas paha putihnya yang menggoda. Ari terpaku sejenak, dan itu kesalahan fatal. Mayangsari langsung menyapu kakinya, membuat Ari terjatuh ke tanah dengan keras.
'Aduh, Bu Guru! Ini namanya main kasar atau main godaan sih?' protes Ari sambil tersenyum, berbaring di tanah sambil memandang Mayangsari yang berdiri di atasnya. Dari sudut pandangnya, ia bisa melihat lekuk tubuh sang guru yang membuat darahnya berdesir.
Mayangsari tertawa kecil, suaranya lembut namun penuh wibawa. 'Kalau kamu nggak fokus, aku bisa main lebih kasar lagi, Ari. Atau... kamu memang sengaja mau lihat yang lain?' tanyanya dengan nada menggoda, lalu membungkuk sedikit untuk menatap Ari lebih dekat. Aroma tubuhnya yang wangi bercampur keringat membuat Ari semakin terbakar.
'Ibu ini... bikin aku nggak bisa mikir jurus. Yang ada di kepala cuma jurus-jurus nakal,' balas Ari berbisik, suaranya rendah dan penuh hasrat. Matanya menatap lurus ke mata Mayangsari, penuh tantangan.
Mayangsari tersenyum tipis, lalu berbalik, berjalan menjauh dengan langkah yang sengaja dibuat menggoda. 'Latihan selesai untuk hari ini. Tapi kamu, Ari, ketemu aku di ruang belakang setelah semua murid pulang. Ada jurus khusus yang harus aku ajarin,' ucapnya tanpa menoleh, suaranya penuh misteri.
Ari bangkit, jantungnya berdebar kencang. Ia tahu, 'jurus khusus' itu bukan cuma soal silat. Malam ini, di padepokan yang sepi, ia akan menghadapi pertarungan yang jauh lebih panas—pertarungan hasrat yang sudah lama terpendam.
Want to know how it ends?
This is just the opening chapter. Continue the saga — or write a steamy tale starring you.