← Story Library

Gairah Terlarang di Asrama Sakura

Gairah Terlarang di Asrama Sakura

Bab 1: Bentrokan Pertama di Malam yang Panas

SMA Elite Aozora terkenal dengan aturan ketat dan siswa-siswanya yang luar biasa, tetapi di balik dinding-dinding megah itu, ada cerita yang jauh lebih liar. Ryu Kenzo, atlet bintang dengan tubuh setinggi 190 cm, otot terpahat, dan wajah yang bisa membuat siapa saja meleleh, adalah idola kampus. Namun, di balik pesonanya, dia seorang germaphobe akut yang membenci kekacauan dan tak pernah membiarkan siapa pun mendekati ruang pribadinya. Di sisi lain, Keira Hanami, jenius berpostur 175 cm dengan tubuh langsing nan berisi, dada D-cup yang memesona, dan wajah dingin yang menjauhkan semua orang, adalah ratu es sejati. Prinsip 'no-touch'-nya tak pernah goyah—kecuali saat dia tidur, di mana dia hanya mengenakan kaos longgar selutut tanpa pakaian dalam, demi kenyamanan.

Hari pertama di Asrama Bunga Sakura, tempat hukuman mereka setelah insiden memalukan di Pameran Sains, adalah bencana total. Kamar tidur dengan kasur single yang sempit itu langsung menjadi medan perang. Saat memasuki asrama, Keira, dengan langkah anggun namun dingin, melirik Ryu yang membawa tas olahraganya dengan hati-hati. 'Jangan berani-berani menyentuh barangku dengan tangan kotor itu,' sambar Keira, nada suaranya tajam seperti pisau. Ryu, yang sudah kesal karena harus berbagi ruang dengan seseorang, membalas dengan smirk sinis. 'Tenang, Putri Es. Aku lebih takut kumanmu daripada sikapmu yang sok suci itu.'

Namun, drama sesungguhnya dimulai saat Keira tersandung karpet kecil di ruang tengah dan jatuh menimpa Ryu. Dadanya yang penuh mendarat tepat di wajah Ryu, membuat pria itu membeku sejenak sebelum wajahnya memerah—bukan karena malu, tapi karena dorongan yang tiba-tiba membakar. 'Kau sengaja, ya?!' bentak Keira, wajahnya merona karena marah sambil buru-buru bangkit. Ryu, dengan senyum nakal, menjawab, 'Kalau aku sengaja, aku bakal pegang lebih lama, Hanami. Tapi ternyata, kau yang ngebet dekat sama aku.' Keira hanya mendengus, matanya menyipit penuh kebencian, tapi dia tak bisa menyembunyikan getaran kecil di nadanya.

Malam itu, setelah pertengkaran kecil soal siapa yang mandi duluan, mereka terpaksa menghadapi kenyataan pahit: gelang kejut listrik yang mengikat mereka dalam jarak 50 cm tak memberi pilihan. Mereka harus mandi bersama, saling memunggungi di kamar mandi kecil yang penuh uap. Air hangat mengalir, membasahi tubuh mereka, sementara Keira berusaha menutupi tubuhnya dengan tangan. 'Jangan coba-coba melirik, Kenzo. Aku bisa membunuhmu dengan sabun ini,' ancamnya, suaranya tegas meski ada sedikit gemetar. Ryu tertawa kecil, suaranya rendah dan menggoda. 'Santai, aku nggak tertarik sama patung es yang bahkan nggak tahu cara mandi tanpa drama. Tapi, kalau kau yang melirik, aku nggak bakal nolak.'

Uap memenuhi ruangan, dan meski mereka berusaha mengabaikan satu sama lain, ketegangan di antara mereka terasa seperti listrik yang siap menyambar. Tubuh Ryu yang berotot dan basah berkilau di bawah cahaya lampu, sementara Keira, meski berusaha keras menyembunyikan tubuhnya, tak bisa mencegah air yang menetes di lekuk tubuhnya terlihat begitu menggoda. Ryu menelan ludah, merasakan panas yang tak bisa dia kendalikan di tubuhnya, sementara Keira, meski tak mengakui, merasakan hawa aneh yang membuat jantungnya berdebar.

Setelah mandi, mereka kembali ke kamar tidur. Keira, dengan tegas, membuat garis batas di kasur single itu menggunakan selotip. 'Jangan berani-berani lewat garis ini, atau aku pastikan kau nggak bangun besok pagi,' katanya, matanya penuh ancaman. Ryu hanya mengangkat bahu, 'Aku nggak bakal nyentuhmu meski kau bayar aku, Hanami. Tapi kalau kau yang nyelonong, jangan salahkan aku.'

Namun, di tengah malam, saat Keira tertidur pulas seperti biasa—tak bisa dibangunkan meski gempa sekalipun—Ryu, yang terbiasa memeluk bantal hiu kesayangannya, secara tak sadar meraih sesuatu yang lembut dan hangat. Tangannya meremas dada Keira, jari-jarinya tanpa sadar bermain di lekuk tubuhnya. Keira tak bergerak, tidurnya terlalu lelap, sementara Ryu, meski setengah sadar, merasakan panas yang membakar di tubuhnya. Dia terbangun beberapa jam kemudian, menyadari apa yang dia lakukan, dan langsung menarik tangannya dengan wajah penuh kengerian—tapi juga hasrat yang tak bisa dia tepis.

Pagi itu, saat matahari menyelinap melalui jendela, Ryu duduk di sisi kasur, berusaha menenangkan dirinya. Tubuhnya tegang, pikirannya dipenuhi bayangan tubuh Keira yang begitu dekat semalaman. Sementara itu, Keira bangun tepat jam 7 pagi, seperti jam biologisnya, tanpa menyadari apa yang terjadi. Dia hanya melirik Ryu dengan dingin, 'Kenapa muka kau sepertinya mau muntah? Jangan bilang kau takut hantu di asrama ini.' Ryu hanya tersenyum tipis, menyembunyikan gejolak di dalam dirinya. 'Nggak, Hanami. Aku cuma nggak nyangka bisa tidur semalaman sama orang se-‘menarik’ kayak kau tanpa muntah beneran.'

Hari itu baru permulaan. Ketegangan di antara mereka terus bertambah, setiap sentuhan tak sengaja, setiap ejekan tajam, hanya menambah bahan bakar ke api yang siap meledak. Malam berikutnya, saat mereka terpaksa berbagi kasur lagi, Ryu tahu dia tak akan bisa menahan diri lebih lama. Tubuhnya sudah terlalu horny, pikirannya dipenuhi bayangan tentang Keira—tubuhnya yang basah, lekuknya yang menggoda, dan kehangatan yang dia rasakan semalaman. Dan saat Keira tertidur lagi, dengan kaos longgar yang sedikit tersingkap memperlihatkan kulit mulusnya, Ryu merasa batas kontrolnya semakin tipis. Dia tahu, malam ini akan jauh lebih panas dari sebelumnya.

Want to know how it ends?

This is just the opening chapter. Continue the saga — or write a steamy tale starring you.