← Story Library

Godaan di Kandang Belakang

Godaan di Kandang Belakang

Bab 1: Percikan Awal

Di pinggiran kota yang sepi, rumah sederhana Yanti berdiri berdampingan dengan rumah Eddy, duda tetangga yang tegap dan penuh pesona. Pagi itu, seperti biasa, Yanti, wanita berusia 45 tahun dengan tubuh bahenol dan daster tipis tanpa lengan, sedang memberi makan ternak di kandang belakang. Payudaranya yang besar dengan puting hitam menonjol di balik kain tipis, basah oleh ASI yang tak pernah berhenti mengalir. Eddy, 49 tahun, dengan tubuh tinggi 180 cm dan sorot mata nakal, sudah berdiri di sampingnya, memegang ember pakan.

"Eh, Bu Yanti, kok pagi-pagi udah bikin panas aja sih? Liat tuh, daster basah kuyup, pentilnya sampe nongol. Mau bikin sapi-sapi ini pada ngiler ya?" goda Eddy sambil nyengir, matanya tak lepas dari tubuh Yanti.

Yanti tertawa keras, tak sedikit pun tersinggung. "Haha, Pak Eddy ini bisa aja! Emangnya bapak nggak suka liat yang basah-basah gini? Atau mau nyicip susu segar langsung dari sumbernya?" balas Yanti dengan nada binal, sengaja mengangkat lengan memperlihatkan ketiaknya yang lebat, membuat Eddy menelan ludah.

"Wah, jangan tantang saya, Bu. Nanti kalo saya minta beneran, bapak yang repot. Ketiak lebat gini, duh, bikin hidung saya gatal pengen nyium-nyium," sahut Eddy, mendekatkan wajahnya ke lengan Yanti, menghirup aroma tubuhnya dengan dramatis.

Yanti malah mengibaskan tangannya dengan genit. "Ya udah, cium aja sepuasnya, Pak. Tapi jangan sampe ketagihan, nanti malah lupa sama sapi-sapi ini!" candanya, sengaja membiarkan Eddy mendekat, bahkan sedikit menggelitik saat hidung pria itu menyentuh kulitnya.

Eddy tertawa, lalu melirik ke arah dada Yanti yang basah. "Kalo cuma ketiak doang sih kurang, Bu. Itu pentil yang basah kuyup gitu, kok kayaknya ngajak-ngajak. Boleh dong saya bantu keringin, sekalian nyicip susu pagi?" tanyanya dengan nada penuh harap, matanya berkilat nakal.

"Hihi, Pak Eddy ini nakalnya nggak ketulungan. Ya udah, cepet ambil sapu tangan, bantu keringin. Tapi ingat, jangan sampe Budi tau, nanti dia malah minta ikutan!" balas Yanti, sengaja membusungkan dadanya, membuat Eddy semakin tak bisa menahan diri. Dengan gerakan pelan, Eddy mengambil kain lap dari saku celananya, lalu dengan hati-hati menyentuh kain daster yang basah, sengaja menggosok pelan di sekitar puting Yanti.

"Duh, Bu Yanti, ini susunya kok nggak habis-habis sih? Saya aja sampe pengen nyedot langsung, biar nggak mubazir," ujar Eddy, jari-jarinya sengaja bermain di ujung kain, membuat Yanti sedikit menggelinjang.

"Eh, jangan nakal-nakal, Pak! Kalo cuma nyedot sih boleh, tapi jangan sampe bikin saya kegelian. Nanti malah saya yang minta lebih," balas Yanti dengan senyum menggoda, matanya penuh tantangan. Eddy hanya nyengir, lalu dengan berani menunduk, bibirnya mendekati kain tipis itu, seolah siap menjilat tetesan yang menggoda.

Saat suasana semakin memanas, tiba-tiba terdengar suara langkah dari arah rumah. Yanti dan Eddy langsung menjauh, berpura-pura sibuk dengan pakan ternak. Andi, anak Yanti yang berusia 19 tahun, muncul dengan wajah polos. "Ma, aku mau ke pasar bentar, ada yang mau dititip?" tanyanya, matanya sedikit curiga melihat ibunya dan tetangga itu berdiri terlalu dekat.

Yanti tersenyum lebar, tak sedikit pun terlihat canggung. "Nggak usah, Nak. Mama sama Pak Eddy cuma istirahat bentar, capek ngurusin sapi. Kamu buruan aja ke pasar, nanti Mama masak yang enak buat kamu," jawabnya dengan nada santai, sengaja melirik Eddy yang juga nyengir penuh makna.

Begitu Andi pergi, Yanti dan Eddy saling pandang, tawa kecil pecah di antara mereka. "Duh, Bu, anaknya polos banget. Kalo dia tau kita main-main gini, apa ya kira-kiranya?" tanya Eddy, tangannya kembali mendekati lengan Yanti.

"Biarin aja, Pak. Toh kita cuma bercanda, kan? Atau bapak mau bercanda yang lebih serius?" balas Yanti, nada suaranya penuh godaan, membuat jantung Eddy berdebar kencang. Mereka kembali mendekat, aroma keringat dan nafsu mulai terasa di udara pagi itu, menjanjikan sesuatu yang lebih liar di hari-hari mendatang.

Want to know how it ends?

This is just the opening chapter. Continue the saga — or write a steamy tale starring you.