← Story Library

Godaan di Kandang Belakang

Godaan di Kandang Belakang

Bab 1: Percikan Awal di Amben Tua

Pagi itu, sinar matahari menyelinap melalui celah-celah kandang belakang rumah Yanti, menerangi tubuhnya yang bahenol terbalut daster tipis tanpa lengan. Payudaranya yang besar terlihat menonjol, puting hitamnya yang besar samar-samar terlihat basah, tanda produksi ASI-nya yang tak pernah berhenti. Ketiaknya yang lebat terlihat saat dia mengangkat tangan untuk mengikat rambutnya, aroma keringatnya bercampur dengan udara pagi yang segar. Di sampingnya, Eddy, tetangga duda berusia 49 tahun, berdiri tegap dengan tubuhnya yang sedikit berisi, matanya tak lepas dari setiap gerakan Yanti.

"Eh, Bu Yanti, ketiaknya kok makin lebat aja, ya? Kayak hutan belantara, bikin penasaran pengen jelajah," goda Eddy sambil nyengir, tangannya memegang sekop untuk membersihkan kandang.

Yanti tertawa kecil, matanya melirik tajam ke arah Eddy. "Pak Eddy ini, mulutnya gak pernah berhenti nakal. Mau jelajah? Silakan, tapi hati-hati, nanti tersesat gak bisa pulang," balasnya dengan nada bercanda, sengaja mengangkat tangan lebih tinggi, memamerkan ketiaknya yang lebat.

Eddy mendekat, hidungnya hampir menyentuh kulit Yanti. "Wah, baunya bikin laki-laki lupa diri ini, Bu. Boleh dong, sedikit nyium? Janji gak bakal minta lebih," pintanya dengan nada genit, matanya penuh hasrat.

"Halah, Pak Eddy, minta yang aneh-aneh aja. Ya sudah, cepet, sebelum ada yang liat. Tapi jangan lama-lama, nanti saya kegelian," jawab Yanti, tetap berdiri tegak, tak ada sedikit pun rasa malu di wajahnya. Dia justru menikmati godaan ini, seperti kebiasaan mereka yang sudah terjalin berbulan-bulan.

Eddy tak membuang waktu, hidungnya menyentuh ketiak Yanti, menarik napas dalam-dalam. "Ahh, Bu Yanti, ini sih obat stress terbaik. Kapan-kapan boleh dong minta yang lain? Liat putingnya kok basah terus, bikin penasaran pengen nyicip," candanya lagi, matanya melirik ke arah dada Yanti yang terlihat jelas di balik daster tipis.

Yanti mengibaskan tangan, pura-pura kesal tapi bibirnya tersenyum. "Dasar tua-tua keladi, Pak. Ini kan susu buat anak, bukan buat tetangga mesum. Tapi ya, kalau cuma liat, boleh lah. Kan saya orangnya gak pelit," balasnya, sengaja menarik daster sedikit ke samping, memperlihatkan putingnya yang basah dan menonjol.

Eddy menelan ludah, matanya tak berkedip. "Bu Yanti, ini sih godaan berat. Saya kan duda lama, mana tahan liat yang begini. Awas loh, nanti saya gak cuma liat, tapi minta pegang," ancamnya sambil tertawa, tangannya pura-pura mendekat.

"Halah, berani aja, Pak. Saya gak takut. Tapi ingat, tangan jangan nakal-nakal. Kita kan cuma bercanda," sahut Yanti, nada suaranya penuh tantangan. Dia melangkah ke arah amben tua di sudut kandang, tempat mereka biasa istirahat setelah lelah bekerja. "Ayo, istirahat dulu. Capek nih, badan lengket keringatan."

Eddy mengikuti, duduk di samping Yanti dengan jarak yang sangat dekat. Bau keringat mereka bercampur, udara terasa semakin panas meski angin pagi masih bertiup. "Bu Yanti, badan lengket gini enaknya mandi bareng, ya? Kan kita udah biasa, gak usah malu-malu lagi," usul Eddy, tangannya sengaja menyentuh lengan Yanti.

Yanti menoleh, matanya penuh makna. "Pak Eddy, mulutnya kok gak pernah capek godain saya, ya? Mandi bareng mah biasa, tapi nanti kalau kelewatan, saya gak tanggung jawab loh. Bisa-bisa kita lupa diri," jawabnya, suaranya pelan tapi penuh godaan, kakinya sengaja bersentuhan dengan kaki Eddy.

Eddy tersenyum lebar, tangannya kini berani merangkul pinggang Yanti. "Lupa diri sama Bu Yanti mah saya rela. Apalagi badan bahenol begini, mana ada laki-laki yang nolak?" bisiknya, wajahnya mendekat, napasnya terasa hangat di leher Yanti.

Yanti tak mundur, justru memandang Eddy dengan tatapan penuh hasrat. "Hati-hati, Pak. Kalau main api, nanti kebakar. Tapi ya, kalau cuma sentuhan kecil, saya mah gak keberatan," ucapnya, tangannya kini membalas menyentuh paha Eddy, jari-jarinya bergerak pelan, menggoda.

Udara di sekitar amben tua itu terasa semakin panas. Napas mereka mulai berat, sentuhan kecil berubah menjadi lebih berani. Yanti merasakan jantungnya berdebar, tubuhnya terasa panas, sementara Eddy tak bisa lagi menyembunyikan hasrat yang membuncah di matanya. Ini bukan lagi sekadar candaan biasa, ada sesuatu yang lebih dalam, lebih liar, yang siap meledak kapan saja.

Want to know how it ends?

This is just the opening chapter. Continue the saga — or write a steamy tale starring you.