Bab 1: Percikan Awal di Amben Tua
Pagi itu, sinar matahari menyusup melalui celah-celah dinding bambu kandang belakang rumah Yanti. Bau tanah basah dan kotoran ternak bercampur dengan aroma keringat yang memenuhi udara. Yanti, perempuan berusia 45 tahun dengan tubuh bahenol, berdiri tegak dengan daster tipis tanpa lengan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Payudaranya yang besar terlihat menonjol, puting hitamnya yang besar samar-samar terlihat basah melalui kain tipis itu. Rambut ketiaknya yang lebat terlihat saat dia mengangkat tangan untuk menyeka keringat di dahinya. Di sampingnya, Eddy, duda 49 tahun dengan tubuh tegap dan sedikit berisi, sedang mengangkut jerami dengan tangan kekar. Matanya sesekali melirik ke arah Yanti, penuh makna.
'Wah, Bu Yanti, keringatan banget nih. Ketiaknya sampai mengkilap, bikin orang laper mata,' goda Eddy dengan senyum nakal, suaranya dalam dan sedikit serak.
Yanti tertawa kecil, tidak ada sedikit pun rasa malu di wajahnya. Dia malah mengangkat lengan lebih tinggi, memperlihatkan bulu-bulu lebat di ketiaknya. 'Laper mata apa laper beneran, Pak Eddy? Kalau mau cium, bilang aja, gak usah malu-malu. Kan udah biasa,' balasnya dengan nada bercanda, tapi matanya penuh tantangan.
Eddy mendekat, hidungnya hampir menyentuh ketiak Yanti. Dia menarik napas dalam-dalam, matanya setengah terpejam. 'Harumnya keringat ibu-ibu rumah tangga tuh beda, Bu. Bikin hati bergetar, nih,' ucapnya sambil tersenyum lebar, lalu mundur sejenak, pura-pura serius. 'Tapi serius, Bu, putingnya kok selalu basah gitu? Susunya gak habis-habis ya? Saya boleh coba nggak, siapa tahu bisa bantu kurangin stoknya.'
Yanti memutar bola matanya, tapi senyumnya tak hilang. Dia menarik sedikit daster di bagian dadanya, memperlihatkan puting yang memang selalu basah karena produksi ASI-nya yang tak pernah berhenti. 'Ini mah kelainan, Pak. Tapi ya sudahlah, kalau Pak Eddy haus, ambil aja. Tapi jangan lama-lama, nanti ternaknya protes gak keurus,' jawabnya dengan nada sarkastik, tapi dia justru mendekatkan tubuhnya, seolah mengundang.
Eddy tak membuang waktu. Dengan gerakan santai tapi penuh hasrat, dia menunduk dan menempelkan bibirnya ke puting Yanti. Rasa manis susu langsung memenuhi mulutnya, sementara tangannya memegang pinggang Yanti dengan lembut. Yanti hanya menghela napas, tangannya malah menekan kepala Eddy lebih erat. 'Dasar, Pak Eddy ini mah gak haus, cuma horny aja. Cepetan, jangan lama-lama, nanti Andi pulang dari sekolah,' ucapnya, suaranya sedikit bergetar, tapi nada bercandanya tetap terdengar.
Setelah beberapa menit, Eddy mengangkat kepalanya, menyeka mulut dengan punggung tangan. 'Enak banget, Bu. Ini mah minuman dewa. Tapi kok saya masih haus ya? Apa boleh minta yang lain?' godanya lagi, matanya melirik ke bawah, ke arah daster Yanti yang sedikit tersingkap.
Yanti menampar ringan bahu Eddy, tapi tawanya malah terdengar genit. 'Dasar mesum! Kerjaan dulu, Pak. Nanti kalau capek, kita istirahat bareng di amben. Siapa tahu saya kasih bonus,' balasnya, sengaja membuat nada ambigu, lalu berbalik untuk mengambil ember pakan ternak.
Mereka melanjutkan pekerjaan dengan candaan-candaan nakal yang semakin hari semakin berani. Setelah sejam bekerja di bawah terik matahari, keringat membasahi tubuh mereka. Yanti dan Eddy akhirnya duduk di amben tua di sudut kandang, tempat mereka sering istirahat. Yanti mengipasi dirinya dengan tangan, daster-nya semakin lengket di tubuhnya, memperlihatkan setiap lekuk. Eddy menatapnya tanpa malu-malu, nafasnya sedikit memburu.
'Bu Yanti, panas banget nih. Daster-nya dilepas aja, biar adem. Saya juga buka baju kok, biar adil,' usul Eddy, sudah mulai melepas kaosnya, memperlihatkan dadanya yang bidang dengan sedikit bulu.
Yanti menggeleng, tapi matanya penuh godaan. 'Adil apaan, Pak. Nanti malah gak cuma panas, tapi bikin yang lain-lain naik juga. Tapi ya sudahlah, saya buka sedikit aja, biar gak gerah,' jawabnya, lalu menarik daster-nya ke atas hingga pahanya yang putih mulus terlihat. Dia tahu betul Eddy sedang menatap dengan lapar.
Eddy mendekat, tangannya berani menyentuh paha Yanti. 'Bu, ini mah gak cuma bikin naik, tapi udah berdiri tegak nih,' bisiknya, suaranya penuh hasrat, matanya gelap penuh nafsu.
Yanti menatapnya tajam, tapi bukan dengan marah. Dia malah tersenyum kecil, tangannya menekan tangan Eddy lebih erat ke pahanya. 'Pak Eddy, sabar dong. Kita kan cuma istirahat. Tapi kalau gak tahan, ya sudah, kita lihat seberapa tegak itu,' balasnya, suaranya rendah, penuh tantangan, sambil perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Eddy, bibir mereka hanya berjarak beberapa senti.
Udara di sekitar amben tua itu terasa semakin panas, bukan hanya karena matahari, tapi juga karena gairah yang mulai membakar di antara mereka. Napas mereka saling bercampur, dan detik berikutnya, bibir mereka hampir bersentuhan, siap untuk meledakkan segala batasan yang selama ini hanya mereka mainkan dengan candaan mesum.
Want to know how it ends?
This is just the opening chapter. Continue the saga — or write a steamy tale starring you.