← Story Library

Hasrat di Balik Kandang

Hasrat di Balik Kandang

Bab 1: Godaan di Pagi Hari

Pagi itu, sinar matahari menyelinap melalui celah-celah bambu kandang di belakang rumah Yanti. Bau tanah basah dan kotoran ternak bercampur dengan aroma kopi yang Yanti bawa dalam cangkir tua. Dia mengenakan daster tipis tanpa lengan, kainnya sedikit basah di bagian dada karena susu yang tak pernah berhenti mengalir dari putingnya yang besar dan hitam. Rambutnya yang sedikit acak-acakan dan ketiaknya yang lebat terlihat jelas saat dia mengangkat tangan untuk menyeka keringat di dahinya. Di sampingnya, Eddy, tetangga duda berbadan tegap, sedang menyapu kandang dengan senyuman nakal di wajahnya.

'Wah, Bu Yanti, pagi-pagi udah bikin panas aja nih. Daster tipis gitu, sengaja bikin saya salah fokus ya?' goda Eddy sambil melirik ke arah dada Yanti yang menonjol, putingnya terlihat jelas di balik kain yang basah.

Yanti tertawa kecil, matanya menyipit penuh tantangan. 'Pak Eddy mah, mata aja yang jail. Ini kan biasa, panas gini masa saya pakai baju tebel? Lagian, susu ini kan gak berhenti, mau gimana lagi?'

Eddy mendekat, sapu di tangannya disandarkan ke dinding. Dia menatap Yanti dengan tatapan lapar. 'Ya Tuhan, Bu Yanti, kalo gitu saya boleh dong bantu kurangin beban? Sayang banget kalo susu seberlimpah itu cuma basahin daster doang.'

Yanti mengangkat alis, tak ada raut malu di wajahnya. 'Hadeh, Pak Eddy ini, pagi-pagi udah nakal aja. Ya udah, kalo mau nyicip, cepet sebelum anak saya bangun. Tapi jangan lama-lama, nanti keburu dingin kopinya.' Dia menarik sedikit daster di bahunya, memperlihatkan salah satu putingnya yang sudah basah dan mengilap.

Eddy tak membuang waktu. Dia mendekat, tangannya gemetar sedikit saat menyentuh kulit Yanti yang hangat. 'Bu Yanti, ini sih anugerah. Saya sampe gemes tiap hari liat Ibu gini,' gumamnya sebelum mulutnya menyentuh puting Yanti, menikmati rasa manis yang mengalir. Yanti hanya menghela napas pelan, tangannya menyisir rambut Eddy dengan santai.

'Pelan-pelan, Pak. Jangan serakah, nanti gak cukup buat besok,' candanya sambil terkikik. 'Eh, tapi serius, ketiak saya yang lebat ini kok sering banget Bapak lirik? Emang suka ya bau-bauan beginian?'

Eddy mengangkat kepala, senyumnya semakin lebar. 'Bu Yanti, jangan salah. Bau ketiak Ibu itu bikin saya gak bisa mikir jernih. Boleh dong saya cium sedikit? Janji gak lama.'

Yanti memutar bola matanya, tapi tak ada tanda penolakan. 'Ya Tuhan, Pak Eddy ini aneh-aneh aja. Ya udah, cepet, sebelum saya ubah pikiran.' Dia mengangkat lengan, memperlihatkan ketiaknya yang lebat dan sedikit berkeringat. Eddy tak ragu, hidungnya mendekat, menghirup dalam-dalam dengan ekspresi penuh kenikmatan.

'Ini sih candu, Bu. Kalo tiap hari gini, saya bisa lupa jalan pulang,' ujar Eddy dengan suara serak, matanya penuh hasrat.

Yanti menarik tangannya kembali, tertawa keras. 'Udah, Pak, jangan kebanyakan drama. Kita kerja dulu, nanti keburu siang. Tapi ya, kalo capek, kita istirahat di amben belakang sana. Siapa tau Bapak mau godain saya lagi.'

Mereka melanjutkan pekerjaan, tapi udara di antara mereka terasa semakin panas. Setiap sapuan sapu Eddy terasa seperti gerakan yang sengaja memamerkan otot lengannya, dan setiap gerakan Yanti terasa seperti undangan diam-diam. Setelah setengah jam bekerja, keringat menetes di tubuh mereka. Yanti akhirnya mengajak Eddy ke amben kayu tua di sudut kandang, tempat mereka sering istirahat.

'Pak, duduk dulu. Saya capek banget nih, badan udah lengket semua,' ujar Yanti sambil duduk, kakinya terbuka sedikit, daster naik hingga memperlihatkan paha putihnya yang montok.

Eddy duduk di sampingnya, matanya tak bisa lepas dari tubuh Yanti. 'Bu Yanti, liat Ibu gini, saya jadi horny banget. Gimana dong? Ini badan saya udah gak tahan, keras banget dari tadi.'

Yanti menoleh, senyumnya penuh godaan. 'Pak Eddy, sabar dong. Kita kan cuma istirahat. Tapi ya, kalo Bapak gak tahan, saya bolehin pegang-pegang dikit. Tapi jangan macem-macem, ya. Nanti kebablasan.'

Tangan Eddy perlahan merayap ke paha Yanti, jari-jarinya gemetar penuh nafsu. Yanti tak menolak, malah membiarkan tangan itu menjelajah lebih jauh. Napas mereka mulai berat, udara di sekitar amben terasa semakin tebal dengan hasrat yang tak terucapkan. Yanti merasakan panas di antara pahanya, basah dan siap, sementara Eddy tak bisa menyembunyikan tonjolan di celananya yang semakin jelas.

'Bu Yanti, ini udah gak bisa ditahan lagi. Saya mau lebih dari pegang-pegang,' bisik Eddy, suaranya penuh gairah, tangannya kini mendekati area yang paling sensitif di tubuh Yanti.

Yanti menatapnya, matanya berkilat penuh tantangan. 'Pak Eddy, kalo gitu, kita lihat seberapa berani Bapak. Tapi ingat, kita harus hati-hati. Jangan sampe ada yang tau.'

Dan di situlah, di amben tua di sudut kandang, hasrat yang selama ini terpendam mulai meledak, membawa mereka ke ambang kenikmatan yang tak terelakkan...

Want to know how it ends?

This is just the opening chapter. Continue the saga — or write a steamy tale starring you.