← Story Library

Hasrat Terpendam di Villa Sunyi

Hasrat Terpendam di Villa Sunyi

Bab 1: Panggilan Malam yang Membakar

Malam itu, udara terasa panas meski kipas angin di kamar Dhani berputar kencang. Janda seksi berusia 35 tahun itu duduk di ranjangnya, mengenakan daster tipis yang nyaris tak menyembunyikan lekuk tubuhnya yang montok. Payudaranya yang berukuran 36B terlihat menonjol, membuatnya tampak begitu menggoda meski tanpa usaha. Ponsel di tangannya bergetar, sebuah panggilan video dari Hasyim, duda tampan yang telah mencuri hatinya sejak beberapa bulan terakhir.

Dhani tersenyum kecil, jantungnya berdebar saat menekan tombol terima. Wajah Hasyim muncul di layar, senyumnya penuh makna. 'Malam, Cantik. Lagi apa sendirian gitu?' suaranya dalam, menggoda.

Dhani mengibaskan rambut panjangnya, sengaja memamerkan bahu mulusnya yang sedikit terbuka. 'Lagi nunggu seseorang yang bikin aku nggak bisa tidur. Kamu tau siapa?' balasnya dengan nada genit, matanya penuh tantangan.

Hasyim tertawa kecil, matanya menyipit. 'Oh, aku tau banget. Tapi, aku punya sesuatu yang mungkin bikin kamu makin nggak bisa tidur.' Layar ponselnya bergoyang sejenak, lalu Dhani terbelalak. Di depan matanya, Hasyim menunjukkan sesuatu yang membuat darahnya berdesir—cock-nya yang besar dan tebal, berdiri tegak dengan bulu-bulu lebat di sekitarnya.

Dhani menutup mulutnya, pura-pura terkejut, meski matanya tak bisa berpaling. 'Hasyim! Kamu gila ya? Ini... ini terlalu!' katanya, tapi nada suaranya justru penuh godaan.

'Terlalu apa, Sayang? Terlalu bikin kamu penasaran? Atau terlalu bikin kamu... horny?' Hasyim menyeringai, tangannya sengaja mengelus-elus dirinya sendiri di depan kamera. 'Sekarang giliran kamu. Aku mau lihat sesuatu yang bikin aku makin hard. Tunjukin, Dhani.'

Dhani menggigit bibir bawahnya, ragu sejenak, tapi hasrat dalam dirinya sudah membakar. Dia bukan wanita yang mudah dikendalikan, tapi malam ini dia ingin bermain. Perlahan, dia menurunkan tali daster-nya, memperlihatkan payudaranya yang penuh dan kencang. Putingnya sudah mengeras, seolah memanggil Hasyim untuk menyentuhnya. 'Puas sekarang?' tanyanya dengan nada menantang, suaranya sedikit serak.

Hasyim menghela napas panjang, matanya penuh nafsu. 'Belum, Sayang. Aku mau lihat lebih. Aku mau kita sama-sama bugil, sama-sama puasin diri malam ini. Kamu mau kan?'

Dhani tersenyum licik, jari-jarinya bermain di kulitnya sendiri. 'Hanya kalau kamu janji, besok kita ketemu beneran. Aku nggak mau cuma main di layar. Aku mau ngerasa kamu, Hasyim.'

'Deal. Besok kita ke villa di pinggir kota. Aku pesan tempat khusus buat kita. Tapi malam ini, aku mau lihat kamu basah, dripping buat aku.' Hasyim memandangnya dengan tatapan yang membuat Dhani merasa telanjang meski masih di kamarnya sendiri.

Malam itu, layar ponsel menjadi saksi bagaimana mereka saling memuaskan diri, suara desahan dan bisikan nakal memenuhi udara. Dhani merasa tubuhnya panas, sweating, sementara Hasyim terus memancingnya dengan kata-kata kotor yang membuatnya makin wet. Mereka tahu, pertemuan besok di villa akan menjadi puncak dari semua gairah yang selama ini terpendam.

Dan Dhani, dengan segala kekuatan dan kepercayaan dirinya, sudah siap untuk mengambil alih permainan. Dia bukan wanita yang menyerah begitu saja—dia akan membuat Hasyim memohon lebih.

Want to know how it ends?

This is just the opening chapter. Continue the saga — or write a steamy tale starring you.