Laura melangkah masuk ke kantor rektor universitas, langkahnya penuh percaya diri dan mata tajamnya memindai ruangan. Setelah bertahun-tahun menjadi seorang profesional sukses, kembali ke tempat di mana semuanya dimulai membawa perasaan nostalgia yang kuat. Namun, ada sesuatu yang lebih kuat lagi yang menarik perhatiannya—ketegangan seksual yang telah lama terpendam.
Di sana, di balik meja besar kayu jati, duduk Pak Budi, rektor tua yang pernah mengajarinya. Wajahnya masih sama, tapi ada sedikit lebih banyak garis-garis kebijaksanaan yang menghiasi wajahnya. Ketika mata mereka bertemu, Laura merasakan getaran yang familiar menjalar di sepanjang tulang belakangnya.
"Aku kira kamu sudah lupa sama aku, Laura," kata Pak Budi dengan senyuman lebar, mata cokelatnya berkilau dengan kecerdasan dan sedikit keinginan.
Laura tertawa, suara yang penuh percaya diri dan sedikit provokatif. "Bagaimana mungkin aku lupa sama kontolmu yang selalu bikin aku basah, Pak Budi?" katanya dengan nada yang jelas menggoda.
Pak Budi terkejut sejenak, tapi kemudian senyumnya melebar, dan Laura bisa melihat kegembiraan di matanya. "Kamu selalu tahu cara membuatku terkejut, Laura," katanya, suaranya sedikit bergetar.
Laura mendekati meja, jari-jarinya dengan lembut memainkan dasi Pak Budi. "Aku ingin tahu apakah kamu masih bisa membuatku merasa seperti dulu," katanya, mata birunya menatap langsung ke mata Pak Budi.
Pak Budi, dengan sedikit gugup, menjawab, "Kamu masih sama seperti dulu, Laura. Selalu tahu cara membuatku gila."
Laura tertawa lagi, suara yang penuh kepuasan. "Kamu tahu aku selalu suka memekku diperlakukan dengan baik olehmu," katanya, suaranya penuh dengan keinginan yang terang-terangan.
Pak Budi merasakan keinginan yang kuat mulai membara di dalam dirinya. "Aku rasa kita harus mencari tempat yang lebih privat," katanya, mencoba untuk menjaga situasi tetap terkendali.
Laura, dengan senyum nakal, menjawab, "Kenapa? Takut orang tahu kalau rektor tua ini masih suka main-main dengan mantan mahasiswanya?"
Pak Budi tertawa, suara yang penuh kegembiraan dan kekaguman. "Kamu benar-benar tidak berubah, Laura. Selalu tahu cara membuatku tertawa dan terangsang sekaligus."
Dengan gerakan cepat dan penuh percaya diri, Laura mendorong Pak Budi ke kursinya dan duduk di pangkuannya, mata mereka bertemu dalam pandangan yang penuh gairah. "Ayo, tunjukkan padaku kalau kamu masih bisa membuatku basah seperti dulu," katanya, suaranya penuh tantangan.
Pak Budi mulai mencium leher Laura, tangannya membelai punggungnya dengan lembut. "Itu dia, Pak Budi. Aku ingin merasakan kontolmu lagi," kata Laura, suaranya penuh keinginan yang tak terbendung.
Mereka terus berbicara dengan kata-kata kotor dan tertawa sambil memulai petualangan seksual mereka di kantor rektor. Laura, dengan keberanian dan kekuatan yang tak tergoyahkan, mengambil kendali, membawa mereka berdua ke dalam dunia kenikmatan yang mereka ingat dengan jelas dari masa lalu.
Want to know how it ends?
This is just the opening chapter. Continue the saga — or write a steamy tale starring you.