Bab 1: Lelah yang Terobati
Lea menjatuhkan tubuh kecilnya ke sofa empuk di ruang keluarga, tas sekolahnya tergeletak sembarangan di lantai. Wajahnya yang biasanya ceria kini tampak kusut, matanya sayu setelah seharian berlatih dance untuk penampilan grup idolnya dan mengerjakan tugas sekolah yang menumpuk. Jam di dinding menunjukkan pukul 9 malam, rumah terasa sepi karena kedua orang tuanya sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis. Hanya ada suara samar dari dapur, tempat Jasiman—atau yang biasa dipanggil Pak Iman—sedang merapikan peralatan makan malam.
'Pak Iman!' panggil Lea dengan nada manja, suaranya sedikit serak karena kelelahan. Ia memeluk bantal sofa, wajahnya setengah terbenam di dalamnya. 'Aku capek banget hari ini. Rasanya mau nangis aja.'
Jasiman muncul dari dapur, tangannya masih memegang lap basah. Pria berusia 53 tahun itu tersenyum kecil, kumisnya yang rapi bergerak sedikit saat ia berbicara. 'Lho, nona kecil kita kenapa? Latihan sama tugas bikin pusing, ya? Sabar, bentar lagi kan libur. Cerita dong sama Pak, biar lega.' Ia duduk di sofa sebelah Lea, menjaga jarak sopan tapi sorot matanya penuh perhatian.
Lea menghela napas panjang, lalu duduk tegak, rambut panjangnya yang sedikit acak-acakan jatuh ke bahu. 'Aku tuh ngerasa nggak cukup waktu, Pak. Latihan tiap hari sampe badan pegel semua, terus tugas numpuk. Aku takut nggak bisa ngimbangin semuanya. Pak Iman pernah ngerasa gitu nggak sih, capek banget sampe pengen nyerah?' Matanya yang besar dan polos menatap Jasiman, mencari jawaban.
Jasiman tertawa pelan, suaranya hangat dan menenangkan. 'Pernah dong, Non. Dulu waktu Pak masih muda, kerja serabutan, capeknya bukan main. Tapi ya, hidup itu kaya naik sepeda. Kalo berhenti ngegowes, ya jatuh. Jadi, walau capek, tetep aja harus gerak pelan-pelan. Non Lea kan kuat, cuma kadang lupa istirahat. Besok minggu, mending santai dulu, nggak usah mikirin tugas. Mau Pak temenin jalan ke taman? Biar pikiran fresh.'
Lea tersenyum kecil, pipinya sedikit memerah karena malu-malu. 'Ih, Pak Iman mah selalu bikin aku ngerasa tenang. Emang ya, cuma sama Pak aku bisa curhat gini. Mama sama Papa sibuk mulu, aku kadang ngerasa sendirian. Makasih ya, Pak, udah dengerin aku.' Ia memeluk bantal lebih erat, matanya berkilau penuh rasa terima kasih.
Jasiman mengangguk, tangannya menepuk-nepuk udara di depan Lea seolah memberi semangat tanpa menyentuh. 'Ya iyalah, Non. Pak kan tugasnya bukan cuma nyetir mobil, tapi juga dengerin cerita nona kecil ini. Kalo ada apa-apa, bilang aja. Sekarang mending mandi dulu, trus tidur. Besok pagi Pak buatin sarapan favorit Non, pancake sama susu cokelat. Gimana?'
Lea terkikik, suaranya menggemaskan. 'Aduh, Pak Iman kok tau aja aku suka itu. Yaudah deh, aku mandi dulu. Tapi janji ya, besok cerita dong tentang masa muda Pak Iman. Aku penasaran!' Ia berdiri, tubuh kecilnya yang hanya 147 cm terlihat mungil dibandingkan sosok Jasiman yang tegap di depannya.
'Janji, Non. Tapi ceritanya nanti sambil makan pancake, biar tambah seru. Sekarang buruan mandi, jangan malem-malem!' Jasiman mengibaskan tangannya dengan nada bercanda, membuat Lea tertawa kecil sebelum berlari menuju kamarnya.
Malam itu, suasana rumah terasa hangat meski hanya ada mereka berdua. Hubungan mereka yang penuh rasa saling menghormati dan dukungan terlihat jelas dari setiap kata dan tawa yang terucap. Namun, di balik kehangatan itu, ada rasa penasaran yang mulai muncul di hati Lea—bukan cinta, melainkan keinginan untuk lebih mengenal sosok yang selalu ada untuknya. Dan malam itu, saat Lea berbaring di tempat tidur, ia tersenyum sendiri, merasa aman karena tahu ada Jasiman yang selalu siap mendengarkan.
Want to know how it ends?
This is just the opening chapter. Continue the saga — or write a steamy tale starring you.