← Story Library

Malam yang Hangat

Malam yang Hangat

**Bab 1: Lelah yang Manis**

Lea menyeret kakinya keluar dari ruang latihan, keringat masih menempel di dahi mungilnya. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit acak-acakan, tapi entah kenapa justru membuatnya terlihat lebih nyata, lebih manusiawi. Jam di dinding menunjukkan pukul 9 malam, dan tubuhnya terasa seperti habis digilas truk. Sebagai anggota grup idol, dia terbiasa dengan jadwal padat, tapi hari ini terasa ekstra berat. Dia butuh seseorang untuk bicara, seseorang yang nggak akan menghakimi atau cuma bilang, 'Ya, kamu kan idol, biasa lah capek.'

Dia mengambil ponselnya, jari-jarinya yang ramping mengetik cepat. 'Man, lu di mana? Butuh obrolan nih. Capek banget.' Pesan itu terkirim ke Iman, sahabat lamanya yang selalu punya cara buat bikin dia ketawa, bahkan di hari terburuk sekalipun. Nggak sampai dua menit, balasan datang. 'Gue di rumah. Mampir aja, bawa keluhan lu sekalian. Gue siap dengerin sambil bikin kopi.' Lea tersenyum kecil, sudut bibirnya naik. Iman selalu begitu—humoris, santai, tapi somehow bikin hati tenang.

Beberapa menit kemudian, Lea sudah berada di depan rumah Iman. Dia nggak pakai make-up tebal seperti biasa, cuma hoodie oversize dan celana pendek yang bikin kaki jenjangnya terlihat meski dia cuma 147 cm. Iman membuka pintu, senyum lebar terpampang di wajahnya yang ramah. Tingginya yang 176 cm bikin Lea harus mendongak, tapi dia nggak pernah merasa kecil di depan cowok ini. Malah, dia selalu merasa setara.

'Wah, muka lu kok kayak habis lari maraton? Latihan apa perang?' canda Iman sambil minggir biar Lea masuk.

'Lu sih, Man, nggak tahu rasanya nari sampe kaki mau copot. Coba lu gantiin gue sehari, pasti nangis,' balas Lea, nada sarkas tapi matanya berbinar. Dia plop ke sofa, kakinya selonjoran tanpa malu-malu.

Iman nyengir, berjalan ke dapur sambil bawa dua cangkir kopi. 'Gue sih oke-oke aja gantiin lu, asal gajinya juga gantiin dompet gue. Deal?' Dia nyodorin kopi panas ke Lea, lalu duduk di sebelahnya, jaraknya pas—nggak terlalu dekat, nggak terlalu jauh.

Lea nyengir, meniup kopinya pelan. 'Lu emang, selalu bikin gue ketawa pas lagi pengen ngomel. Tapi serius, Man, hari ini berat banget. Kayak, badan gue capek, pikiran juga. Kadang pengen kabur aja dari semua ini.'

Iman memandangnya, matanya penuh perhatian. 'Lu nggak sendirian, Le. Lu boleh capek, boleh ngomel, tapi jangan kabur. Lu terlalu kuat buat nyerah gitu aja. Lagian, siapa lagi yang bakal bikin fans lu pada jerit-jerit kalo bukan lu?'

Lea tertawa kecil, bahunya sedikit bergetar. 'Lu kok bisa gitu sih, Man? Bikin orang down jadi up lagi. Lu dukun apa motivator?'

'Gue cuma temen lu yang kebetulan jago bikin orang lupa capek. Eh, tapi serius, lu mau cerita apa yang bikin pikiran lu berantakan? Atau mau gue cariin cara biar lu rileks?' Iman mengangkat alis, nada bercandanya bikin suasana makin cair.

Lea memandangnya, senyumnya perlahan berubah jadi sesuatu yang lebih dalam, lebih hangat. Dia meletakkan cangkir kopinya di meja, lalu mendekat sedikit. 'Lu beneran mau bikin gue rileks? Hati-hati, Man, gue bisa minta yang aneh-aneh.' Nada suaranya main-main, tapi ada sesuatu di matanya yang bikin jantung Iman berdebar.

Iman nyengir, nggak mau kalah. 'Aneh-aneh gimana? Lu minta dipijet apa minta digendong? Gue sih oke aja, asal lu nggak minta gue nyanyi lagu lu. Suara gue bisa bikin kaca pecah.'

Lea tertawa keras, kepalanya terangkat ke belakang. Tapi saat tawanya reda, dia menatap Iman dengan intens. 'Lu tahu nggak, Man, kadang gue ngerasa lu lebih dari temen. Kayak... entah lah, susah dijelasin.' Dia menggigit bibir bawahnya, wajahnya memerah sedikit.

Iman terdiam sejenak, lalu mendekat, suaranya pelan tapi tegas. 'Le, lu nggak perlu jelasin. Gue ngerti. Dan gue di sini, selalu.' Jarak mereka kini begitu dekat, napas mereka hampir bersentuhan. Lea merasakan panas di wajahnya, jantungnya berdebar kencang. Dia nggak tahu kapan tangan Iman menyentuh pipinya, tapi sentuhannya lembut, bikin dia lupa semua lelah.

'Man...' gumam Lea, suaranya hampir berbisik. Dia nggak mundur, malah mendekat, bibirnya hanya beberapa senti dari bibir Iman. Suasana berubah, udara terasa panas, dan dia bisa merasakan dirinya mulai basah, horny, hanya dari tatapan tajam Iman. Dia tahu, malam ini nggak akan berhenti di obrolan biasa.

Want to know how it ends?

This is just the opening chapter. Continue the saga — or write a steamy tale starring you.