← Story Library

Pakaian Penghinaan: Permainan Para Alpha

Pakaian Penghinaan: Permainan Para Alpha

Bab 1: Awal dari Penghinaan

Di sudut kampus yang sepi, di balik gedung olahraga yang jarang dikunjungi, aku berdiri dengan jantung berdebar. Aku tahu apa yang akan terjadi. Felisha, Natasha, Chorin, Regina, Gwen, Shema, Adine, Vanessa, dan Kiara—sembilan perempuan alpha yang dikenal sebagai penguasa kampus—telah memanggilku ke sini. Mereka bukan tipe yang bisa ditolak. Senyum mereka manis, tapi mata mereka penuh dengan niat jahat. Aku hanyalah mangsa baru mereka, dan aku tahu aku tidak akan keluar dari sini dengan harga diri utuh.

'Jadi, anak baru,' Felisha memulai, suaranya lembut tapi penuh otoritas. Dia mengenakan baju hitam transparan dengan strip putih yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas. 'Kamu pikir kamu bisa main-main di wilayah kami tanpa konsekuensi?'

Aku mencoba menjawab, tapi Natasha memotong dengan tawa kecil yang dingin. Dia mengenakan tank top putih dengan garis pink, memeluk tubuhnya yang atletis. 'Jangan coba-coba ngeles, sayang. Kami tahu cowok kayak kamu cuma bisa mikir pake kontol.'

Aku merasa wajahku memanas. Chorin, dengan celana panjang pink bahan yang ketat, melangkah mendekat, jari-jarinya bermain di daguku. 'Kamu bakal jadi mainan kami hari ini. Dan kamu bakal suka, percaya deh,' katanya dengan senyum licik.

Regina, yang mengenakan tank top hitam panjang, menyeringai sambil memegang tumpukan pakaian di tangannya. 'Kami punya hadiah buat kamu. Setiap pakaian ini bakal bikin kamu inget siapa yang punya kuasa di sini.' Dia melemparkan rok biru navy ke arahku. 'Pakai ini dulu. Kami mau liat betapa memalukannya kamu keliatan.'

Aku ragu, tapi Gwen, dengan tank top biru turquoise yang memperlihatkan perut ratanya, mendekat dan berbisik di telingaku, 'Jangan bikin kami marah, sayang. Kalau kamu nurut, mungkin kami bakal kasih sedikit... hadiah.' Nada suaranya penuh godaan, tapi aku tahu itu hanya jebakan.

Dengan tangan gemetar, aku mengenakan rok biru navy itu. Mereka semua tertawa, suara mereka memenuhi ruangan. Shema, yang mengenakan daster hijau tipis, mengambil ponselnya dan mulai merekam. 'Lihat ini, betapa lucunya budak baru kita,' katanya sambil terkikik.

Adine, dengan rok ketat hitam yang memeluk pinggulnya, melangkah maju dan menarik rok yang aku pakai hingga sedikit terangkat. 'Coba liat, dia udah mulai keras cuma gara-gara ini,' ejeknya, matanya penuh hinaan. Aku merasa malu, tapi tubuhku berkhianat. Aku memang horny, dan mereka tahu itu.

Vanessa, mengenakan plaid skirt abu yang pendek, mendekat dan menepuk pipiku. 'Kamu suka dipermalukan, ya? Kami bakal bikin kamu minta ampun.' Dia tersenyum, lalu berbisik pada Kiara, yang mengenakan hot pants pink. 'Ayo, kita mulai mainin dia.'

Kiara mengangguk, lalu tangannya meraih celanaku yang masih terbuka di balik rok, menariknya turun dengan kasar. 'Lihat ini, kontolnya udah berdiri. Betapa menyedihkannya,' katanya dengan nada menghina. Aku merasa panas di seluruh tubuhku, malu bercampur dengan gairah yang tak bisa kutolak.

Felisha melangkah maju, jari-jarinya bermain di udara sebelum akhirnya menyentuhku. 'Kami bakal bikin kamu basah kuyup sama keringat dan nafsu, sayang. Tapi kamu nggak bakal dapet apa-apa sampai kami bilang boleh.' Dia tersenyum jahat, lalu memberi isyarat pada yang lain untuk mendekat.

Aku tahu ini baru permulaan. Dengan sembilan perempuan ini mengelilingiku, pakaian-pakaian memalukan yang akan mereka paksa aku pakai, dan permainan kejam mereka, aku tidak punya pilihan selain menyerah. Aku bisa merasakan tangan-tangan mereka mulai menyentuhku, menggoda, membuatku semakin keras, semakin terangsang. Aku tahu malam ini akan panjang, dan aku akan menjadi budak mereka, terperangkap dalam permainan nafsu dan penghinaan yang tak berujung.

Want to know how it ends?

This is just the opening chapter. Continue the saga — or write a steamy tale starring you.