← Story Library

Perek Murah di Jalanan: Kisah Tyty Si Exhibitionist

Perek Murah di Jalanan: Kisah Tyty Si Exhibitionist

Bab 1: Awal Perjalanan Hina

Tyty, cewek Sunda berusia 21 tahun, berdiri di pinggir jalan pasar malam dengan jantung berdebar kencang. Tubuhnya yang kurus, tinggi 160 cm, dan berat cuma 40 kg, terlihat rapuh tapi menggoda. Toketnya kecil tapi perky, pentilnya mungil bikin penasaran, dan pantatnya yang montok jadi daya tarik utama meski memeknya rapet. Malam itu, dia pakai dress transparan tanpa bra dan celana dalam, sesuai perintah dari Dedi, preman pasar yang udah pegang rahasia memalukan Tyty. Foto-foto telanjangnya yang pernah dia kirim ke grup chat salah alamat kini jadi alat pemerasan.

“Oi, Tyty, lo beneran berani ya pake ginian di tengah keramaian? Memek lo keliatan banget tuh, perek murah!” cibir Dedi sambil nyengir jail, matanya melotot ke tubuh Tyty. Sekelompok tukang parkir di dekat situ ikut ngebayangin, mata mereka lapar.

“Gue… gue cuma nurut perintah lo, Ded. Jangan bilang siapa-siapa soal foto itu,” jawab Tyty lirih, wajahnya merah padam. Tapi di dalam hati, ada getaran aneh yang bikin dia malah pengen diperhatiin lebih banyak orang.

“Hahaha, nurut? Lo emang lonte murahan, suka bener dipermaluin gini. Nih, gue kasih perintah baru. Lo harus beli rokok di warung tuh, sambil pasang vibrator di memek lo. Biar orang-orang pada liat lo basah kuyup,” perintah Dedi sambil nyodorin alat kecil yang berdengung pelan.

Tyty menggigit bibir, tangannya gemetar pas nerima vibrator itu. “Lo gila ya, Ded? Kalau ketahuan orang gimana?” tanyanya, suaranya penuh keraguan tapi ada nada penasaran.

“Ketauan? Bagus dong, biar mereka tau lo jablay murahan yang doyan pamer badan. Cepet, masukin sekarang atau foto lo gue sebar!” ancam Dedi sambil nyengir lebar.

Dengan tangan gemetar, Tyty masukin vibrator itu ke memeknya yang udah mulai basah tanpa sadar. Dia ngerasa malu banget, tapi sensasi getaran itu bikin dia nggak bisa nolak. Langkahnya gontai menuju warung, diikuti tatapan mata-mata mesum dari tukang parkir dan pedagang kaki lima. Dress transparannya bikin pentil kecilnya yang mengeras keliatan jelas, dan vibrator itu bikin dia nggak bisa jalan normal.

“Eh, mbak, kok jalannya aneh? Lagi sange ya?” tanya seorang tukang sayur dengan nada ngejek, sambil matanya melotot ke tubuh Tyty.

“Enggak… enggak apa-apa,” jawab Tyty buru-buru, wajahnya makin merah. Tapi dia nggak bisa bohong, memeknya udah dripping wet, dan getaran itu bikin dia pengen teriak.

Saat dia sampe di warung, vibrator itu tiba-tiba nyala lebih kencang—ternyata Dedi yang mainin remot dari jauh. Tyty nggak bisa nahan desahan kecil, keringet mulai netes di dahinya. “Mbak, beli rokok apa?” tanya penjual warung, matanya curiga.

“Eh… apa aja, bang,” jawab Tyty sambil berusaha nutupin suara desahannya. Tapi tiba-tiba, segerombolan kuli bangunan yang lagi nongkrong di dekat situ nyamperin.

“Woi, ini cewek kok desah-desah? Lo lagi horny ya, perek? Memek lo basah banget tuh, keliatan dari sini!” ejek salah satu kuli sambil nyengir kotor. Yang lain ikut ketawa, dan Tyty cuma bisa berdiri gemetar, malu tapi excited.

“Gue… gue cuma…” Tyty nggak bisa ngomong, tubuhnya panas dan memeknya udah nggak tahan. Tiba-tiba, Dedi muncul dari belakang dan narik tangan Tyty. “Udah, lo nggak usah malu-malu. Ini cewek emang lonte murah, suka pamer badan. Ayo, kasih dia apa yang dia mau!” seru Dedi ke gerombolan itu.

Tanpa basa-basi, mereka narik Tyty ke gang sempit di belakang warung. Dress-nya disobek, pentil kecilnya yang mengeras langsung dijamah kasar. “Nih, toket kecil tapi pentil lo bikin ngaceng, jablay!” cibir salah satu kuli sambil nyubit keras. Tyty cuma bisa mendesah, malu tapi nggak bisa nolak.

“Lo suka ya, diperkosa gini? Memek lo udah banjir banget!” ejek yang lain sambil nyodok-nyodok memek Tyty yang udah basah banget. Vibrator itu masih berdengung di dalam, bikin dia nggak bisa mikir jernih. Kontol mereka yang udah hard mulai dikeluarin, dan Tyty tau malam itu bakal panjang.

Di tengah gang gelap, bau keringet dan nafsu memenuhi udara. Tyty, meski malu, mulai ngerasa ada sesuatu yang liar bangkit di dalam dirinya. Dia belum tau, ini cuma awal dari perjalanan panjangnya sebagai perek murahan yang doyan dihina dan digangbang di tempat umum.

Want to know how it ends?

This is just the opening chapter. Continue the saga — or write a steamy tale starring you.